Tentang Jakarta Biennale

Perhelatan ini pertama kali digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1968 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia dan menjadi ajang seni berskala internasional sejak 2009. Sedari mula Jakarta Biennale telah selalu berupaya menciptakan ruang kota yang kreatif, partisipatif, dan kolaboratif bagi warganya hingga hari ini.

Kolaborasi selalu digalang dengan berbagai pihak, baik pemerintah, warga, seniman, maupun ekosistem pekerja kreatif, dalam menghidupkan dinamika budaya kota serta mengembangkan ekonomi kota. Tema-tema yang dipilih dalam tiap penyelenggaraan adalah wujud upaya mengembangkan wacana kebudayaan dan seni rupa.

Khususnya yang menginspirasi dan memantik percakapan untuk menyikapi perubahan yang senantiasa berlangsung di segala lini kehidupan masyarakat.

Ujaran yang menyarankan bahwa pengalaman adalah sarana edukasi terbaik masih kami yakini. Lewat interaksi masyarakat dengan karya-karya seni rupa kontemporer dari dalam dan luar negeri yang dipamerkan, Jakarta Biennale (JB) berharap dapat memberi pengalaman baru yang partisipatif dan inspirasional bagi warga, demi meningkatkan apresiasi publik atas praktik seni rupa kontemporer.

Lebih dari itu, Jakarta Biennale memantapkan diri untuk konsisten mendayagunakan prasarana seni dan budaya secara optimal. Dengan demikian, ajang ini selalu mampu menawarkan gagasan yang relevan, penting, dan aktual baik dalam konteks nasional maupun internasional.

Sejarah Jakarta Biennale

Cikal-bakal Jakarta Biennale bermula dari berbagai perubahan seiring dengan gejolak kebaruan di Indonesia pada masa Orde Baru. Salah satu perubahan mendasar di dunia seni rupa Indonesia ditandai oleh kemunculan “Desember Hitam” pada 1974. “Desember Hitam” merupakan protes seniman muda Indonesia terhadap konsep estetika mapan yang diusung Pameran Besar Seni Lukis Indonesia. Insiden ini kemudian menginspirasi berbagai gerakan seni, seperti Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), dan mendorong adanya kebutuhan untuk menentukan parameter baru perkembangan seni rupa Indonesia.Setelah 1974, Pameran Besar Seni Lukis Indonesia mengambil format bienial, yaitu diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pada tahun selanjutnya namanya berganti menjadi Biennale Seni Lukis, hingga kemudian berganti lagi menjadi Biennale Jakarta pada 1993 (Biennale IX), dengan Kurator Utama Jim Supangkat.

Dalam kesempatan itu, untuk pertama kalinya karya-karya seni rupa kontemporer dengan beragam medium dipamerkan. Hal tersebut membuat ajang ini menuai kontroversi karena karya instalasi yang dipamerkan dianggap merusak pakem dan tatanan seni modern konvensional yang mengutamakan harmoni. Insiden ini nyatanya membuat Jakarta Biennale 1993 kerap dianggap sebagai titik balik dunia seni rupa Indonesia. Namun, lukisan kembali hadir sebagai karya dominan pada Biennale X dan XI yang diadakan tahun 1996 dan 1998.

Biennale Jakarta sempat mengalami kekosongan panjang akibat pergolakan sosial-politik dan pergantian kekuasaan pemerintah Indonesia pasca-1998. Ajang ini baru digelar kembali pada 2006 dengan judul Jakarta Biennale 2006 yang terdiri atas tiga pameran: “Beyond”, “Milestone”, dan “The Others”. Berikutnya, Jakarta Biennale 2009 “Arena” adalah yang pertama kali mengagendakan skala internasional dengan mengundang seniman-seniman luar negeri dan memberdayakan berbagai program partisipasi publik secara luas. Pada masa ini ruang pameran utama Jakarta Biennale berganti dari Taman Ismail Marzuki ke Galeri Nasional Indonesia, yang berlanjut pada Jakarta Biennale 2011 “Maximum City”.

Jakarta Biennale 2013 digelar dengan tajuk “Siasat” dan kembali ke Taman Ismail Marzuki. Namun, berbeda dengan sebelum-sebelumnya di mana pameran berlangsung di Galeri Cipta, JB 2013 mendobrak pakem berpameran dengan memakai pelataran parkir bawah tanah Teater Jakarta TIM sebagai ruang utamanya. Hal ini menandai eksperimentasi JB tidak hanya dalam pengaryaan perupa tapi juga pemberdayaan ruang publik Jakarta sebagai ruang pamernya.

Pada 2015 Yayasan Jakarta Biennale didirikan sebagai mitra Dewan Kesenian Jakarta dalam penyelenggaraan. Jakarta Biennale tahun itu mengusung “Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang”, dan menghadirkan berbagai kegiatan budaya untuk dinikmati warga dalam rangka memahami kota sebagai daerah yang bergerak dan terus berubah. Ruang pameran utama mengambil tempat di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan. Dua tahun kemudian, “Jiwa”: Jakarta Biennale 2017 digelar, masih di Gudang Sarinah Ekosistem sepanjang November hingga Desember tahun tersebut. Pembahasan difokuskan pada persoalan-persoalan seputar dorongan dasar manusia yang menggerakkan berbagai rasa, indra, dan wawasan. Kendati terasa lebih personal, “Jiwa” berusaha  memperkaya dan memperluas pengalaman artistik serta daya kritis publik dalam memahami realitas kontemporer secara sublim dan kontemplatif.

Jakarta Biennale terus bergulir dan akan diselenggarakan kembali pada 2021 dengan tema “Esok: Membangun Sejarah Bersama”, meneruskan 46 tahun riwayat dan keterlibatannya dalam arus gelombang seni rupa Indonesia dan dunia.

Jakarta Biennale 2021

ESOK: Membangun Sejarah Bersama!

Jelang akhir 2019, “ESOK: Membangun Sejarah Bersama” digagas sebagai tema utama Jakarta Biennale XVI. Pokok pikiran ini menyentuh beragam permasalahan kehidupan dunia hari ini: hak asasi manusia, lingkungan hidup, keberagaman, kesetaraan gender, polarisasi politik hingga disrupsi digital.

Persoalan-persoalan tersebut terus berputar; dibaca, direnungkan, diperbincangkan, dan diekspresikan dalam koridor seni kontemporer. Melalui pembacaan ulang sejarah dan tatapan masa depan, tawaran siasat dan eksperimentasi seni rupa menyandang urgensi dalam pencarian dan pemaknaan ESOK.

Mengarak harapan untuk ESOK, Jakarta Biennale bermutasi menyodorkan kebaruan masa depan. Ketika pandemi kelak berlalu, sejarah baru akan dibangun bersama, menuju ESOK yang dinanti.

Pengantar Kuratorial

“Sekarang saatnya kita mengonsolidasi imajinasi dan kreativitas, tanpa takut akan ancaman terhadap ekspresi seni dan budaya demi keberlangsungan dan warisan kemanusiaan.”
Dolorosa Sinaga (Direktur Artistik, Jakarta Biennale 2021)

Memasuki dekade baru di milenium ini, gejolak perubahan semakin deras: dari pergeseran politik global, polarisasi massa, isu keberagaman, disrupsi digital, perubahan iklim, hingga pandemi global Covid-19.

Usai pesta demokrasi 2019, Jakarta mulai berbenah dengan perbaikan infrastruktur kota dan keterbukaan terhadap budaya generasi baru yang menyemarakkan kehidupan urban Jakarta. Kita dipaksa mencari solusi permasalahan bersama sekaligus menguji solidaritas kemanusiaan. Namun, krisis yang disebabkan pandemi global COVID-19 memberikan tantangan lebih jauh, tak hanya bagi Jakarta dan Indonesia, tetapi juga seluruh dunia, akan sebuah masa depan di mana kemanusiaan begitu rentan akan hadirnya ancaman biologis, seperti virus dan mutasi-mutasi baru dalam ekosistem hidup manusia. Segala tantangan ini menyodorkan ranah peluang bagi seni rupa kontemporer generasi baru untuk berkontribusi sehubungan dengan isu-isu sosial pada dekade kedua milenium ini.

Berbagai permasalahan di atas telah menimbulkan pertanyaan: bagaimana masa depan Jakarta, Indonesia, dan dunia? Masa depan manusia? Melalui pertanyaan ini, Jakarta Biennale sebagai platform seni rupa sebuah kota, yang menjadi pusat pengambilan keputusan di negeri ini, berikhtiar mengakomodir praktik seni rupa terkini dalam membicarakan isu-isu global. Langkah ini juga sebagai upaya penanda momentum perkembangan seni rupa Indonesia dan penentuan arahnya ke depan.

Pada 2021 mendatang, Jakarta Biennale akan mengusung tema “ESOK—Membangun Sejarah Bersama”  Melalui tema ini kami ingin menerawang jauh ke depan, sembari melihat masa lalu dan merenungkan masa kini. Kami ingin menyerukan eksplorasi segala kompleksitas ruang dan masyarakat Jakarta untuk membayangkan esok kita bersama. Apa pun yang terjadi di masa depan, Jakarta adalah parameter Indonesia.

Untuk mengelaborasi tema tersebut, kami mengundang Dolorosa Sinaga—salah satu pematung ternama Indonesia, pengajar di Institut Kesenian Jakarta, dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM)—sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale 2021. “Seni adalah warisan kita untuk esok. Jakarta Biennale 2021 memanggil suara-suara kepedulian akan isu-isu kemanusiaan, penyalahgunaan kuasa akan ekspresi seni dan budaya, kehancuran lingkungan, perampasan hak kesejahteraan dan kesetaraan gender,” ia menandaskan dalam pernyataan artistik.

Dolorosa akan menentukan arahan artistik dan mengundang para kurator, perupa, dan kolektif seni untuk merespons “ESOK—Membangun Sejarah Bersama” dan memikirkan berbagai isu yang harus kita jawab untuk masa depan yang lebih baik. Arahan tersebut nantinya akan dieksplorasi melalui dua jalur pendekatan artistik:

  1. Seni rupa di ruang publik: seni patung kontemporer, instalasi luar ruang, performans khas tapak, dan berbagai platform seni rupa publik lainnya.
  2. Arsip sebagai medium artistik: mengeksplorasi, memikirkan kembali sejarah dan masa depan melalui berbagai penggunaan/eksperimentasi arsip sebagai medium seni visual.

 

Selanjutnya, premis artistik ini direalisasikan melalui program-program yang berlandaskan pada kontribusi Indonesia kepada dunia, kebebasan berekspresi, dan produksi pengetahuan.

Profil Tim Artistik

Farah Wardani (Indonesia), Direktur Eksekutif
Sejarawan seni, kurator, dan organisator seni, pendiri Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Yogyakarta (2006-2015), dan pembangun arsip koleksi National Gallery Singapore (2015-2019)

Dolorosa Sinaga (Indonesia), Direktur Artistik
Pematung, pengajar Institut Kesenian Jakarta, dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia.

Grace Samboh (Indonesia), Kurator
Kurator, penulis, dan pekerja seni, dengan proyek meliputi Symposium Biennale Yogyakarta dan “Sunshower: Contemporary Arts in Southeast Asia 1980s to Now” (2018-2019)

Sally Texania (Indonesia), Kurator
Kurator, pengarsip, dan peneliti, antara lain dalam “Mutual Unknown” (2017), pameran koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia “Senandung Ibu Pertiwi” (2018), dan revitalisasi ruang koleksi permanen serta pembuatan “Lini Narasi Baru” Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta (2019).

Qinyi Lim (Singapura), Kurator
Kurator di National Gallery Singapore, dengan latar pengalaman di ParaSite, Singapore Art Museum, dan De Appel, serta pameran-pameran “Afterwork” (2016) dan “Why Stay If You Can Go?” (Stedelijk Museum, 2011)

Jakarta Biennale 2009

ARENA
Venue: Galeri Nasional Indonesia, Grand Indonesia
7-27 Februari 2009

Direktur Artistik: Ade Darmawan
Kurator: Abduh Aziz (Zona Pemahaman), Ardi Yunanto (Zona Pertarungan), Agung Hujatnikajennong (Zona Cair)

Jakarta Biennale 2009 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Jakarta Biennale. Untuk pertama kalinya, perhelatan seni rupa dua tahunan ini diperluas cakupannya sebagai ajang internasional. Pada edisi ke-13 tersebut, Jakarta Biennale mengusung tema besar “Arena” dengan rangkaian acara yang digolongkan ke dalam tiga zona besar yakni Zona Pemahaman (Zone of Understanding), Zona Pertarungan (Battle Zone), dan Zona Cair (Fluid Zone).

Dengan format itu, Jakarta Biennale 2009 mengupayakan sebuah perhelatan besar seni rupa yang memungkinkan interaksi dengan masyarakat. Seni tak dihadirkan semata sebagai pameran karya tetapi juga sebagai strategi perubahan yang melibatkan subjek kota, di mana gagasan reflektif, kritis, dan kreatif bersama diharapkan dapat membuka ruang-ruang baru yang lebih inspiratif, partisipatif, dan toleran di arena kota.

Jakarta, dengan luas 661 km persegi dan belasan juta penduduk yang terus berkembang pesat, seperti kota besar urban lainnya, juga cenderung kehilangan fungsi-fungsi sosial, khususnya potensi warga sebagai makhluk sosial budaya.

Pembangunan ruang kota yang terfokus pada aspek ekonomi dan fisik seringkali mengesampingkan aspek sosial dan individual. Individu di dalam struktur kota lebih dipandang sebagai objek sebuah sistem. Dalam sistem kota yang seperti ini, individu seolah berada di dalam berbagai arena untuk memperebutkan ruang, baik ruang ekonomi maupun fisik. Konsentrasi untuk pertumbuhan ekonomi juga seringkali tak memperhatikan aspek budaya. Jakarta Biennale diselenggarakan sebagai bentuk pertanggungjawaban seniman kepada masyarakat dan peningkatan apresiasi.

Seniman:
Ali Akbar (Indonesia), Angki Purbandono (Indonesia), Ari Dina Krestiawan (Indonesia), Bujangan Urban (Indonesia), Carterpaper (Indonesia), Cecil Mariani (Indonesia), Daniel Kampua (Indonesia), Donna Ong, Eko Nugroho (Indonesia), Enrico Halim, Eric Widjaja, Hadiwirman Saputra (Indonesia) Hoang Duong Cam, Ismiaji Cahyono, Iswanto Hartono, Jompet Kuswidananto, Khairuddin Hori (Indonesia), Lyra Garcellano (Filipina), Ming Wong (Singapore), Montri Toemsombat (Thailand?), Nadiah Bamadhaj (Malaysia), Paul Kadarisman (Indonesia), Poklong Anading (Filipina), Porntaweesak Rimsakul (Thailand), Restu Ratnaningtyas (Indonesia), Reza Afisina (Indonesia), Ritchie Ned Hansel (Indonesia), Roslisham Ismail (Indonesia), Rudi Mantofani (Indonesia), Ryan Riyadi aka The Popo (Indonesia), Sekar Jatiningrum (Indonesia), Sherman Ong (Malaysia)Stani Michiels (Belgia)Syahrul Amami (Indonesia), Takuro Kotaka (Jepang?), Tawatchai Puntusawasdi (Thailand), Thaweesak Srithongdee (Thailand), The Secret Agents (Indonesia), Tintin Wulia (Indonesia), Veronica Kusuma (Indonesia), Videobabes (Indonesia), Vincent Leong (Malaysia), Wimo Ambala Bayang (Indonesia), Wiyoga Muhardanto (Indonesia), Yan Mursid (Indonesia), Yason Banal (Filipina)

Jakarta Biennale 2011

JAKARTA MAXIMUM CITY: Survive or Escape?
Venue: Galeri Nasional, TIM, dan Bentara Budaya Jakarta
15 Desember 2011-15 Januari 2012Kurator: Bambang Asrini Widjanarko, Ilham Khoiri, dan Seno Joko Suyono (Indonesia)

Jakarta Biennale ke-14 yang digelar pada 2011 hadir dengan mengusung “Jakarta Maximum City: Survive or Escape?” sebagai tema besarnya, di mana dinamika kota menjadi inspirasi ajang yang diikuti 55 seniman dalam negeri dan 17 seniman luar negeri ini.

Tarik-menarik antara berbagai kepentingan sosial ekonomi dan budaya menjadikan Jakarta kota yang penuh paradoks. Hal ini pun telah menjadi dasar pemikiran bagi Jakarta Biennale XIII 2009, saat Dewan Kesenian Jakarta sebagai penyelenggara memandang situasi Jakarta sebagai arena perebutan ruang masyarakat.Namun, kurator JB ke-14 melakukan pendekatan yang berbeda. Jakarta ditengarai dengan cirinya yang terus tumbuh menjadi penuh, maximum. Pada saat yang sama, sikap penghuninya cenderung eskapis dan pragmatis bertahan hidup; demi “pelarian” atau “berhasil lolos” dalam dinamika Jakarta. Kedua kata yang menjadi subjudul, walau berseberangan arti secara harfiah, bisa diartikan sama bila dilihat dengan kritis dalam konteks Jakarta. Ada ambiguitas pada situasi yang paradoks.

Seniman:
Abdi Seyawan (Indonesia), Adi Panuntun (Indonesia), Aditya Novali (Indonesia), Ai Weiwei (Cina), Aiko Urfia (Jepang), Alberto Mielgo (Spanyol), Budi Pradono (Indonesia), Budi Ubrux (Indonesia), Twardzik Ching Chor Leng (Singapura), Cipta Croft-Cusworth (Indonesia), Claro Ramirez (Filipina), Dipo Andy (Indonesia), Farhan Siki (Indonesia), Felix Bacolor (Filipina), Gaston Damag (Filipina), House of Natural Fiber – HONF (Indonesia), Hong Keung (Hong Kong), I Nyoman Sujana Kenyem (Indonesia), I Wayan Upadana (Indonesia), Invalid Urban (Indonesia), Irwan “Iwenk” Bagja Darmawan (Indonesia), Ismanto Wahyudi (Indonesia), Iswanto Hartono (Indonesia), Iwan Hasto (Indonesia), Januri (Indonesia), Jet Pascua (Norwegia), Kaleb De Groot (Belanda), Iben Trino-Molenkamp (Belanda), Keijiro Suzuki (Jepang), Kotak Kotak (Indonesia), Li Hui (Cina), Lugas Syllabus (Indonesia), Luisito Cordero (Filipina), Luste Lambert (Indonesia), Mark Salvatus (Filipina), Meng Shu Yu (Taiwan), R. E. Hartanto (Indonesia), Regina Jose Galindo (Guatemala), Rudi Hendrianto (Indonesia), Sihol Sitanggang (Indonesia), Steak Daging Kacang Hijau (Indonesia), Susilo Sudarman (Indonesia), Tayeba Lipi (Bangladesh), Varsha Nair (India), Vertical Submarine (Singapura), Vic Balanon & Ferdz Valencia (Filipina), Videobabes (Indonesia), Wafaa Bilal (Irak/Amerika Serikat), Xu Zhongmin (Cina), Yudhi Sulistyo (Indonesia), Yu Sing (Indonesia), Yusra Martunus (Indonesia)

Adel Maulana Pasha (Indonesia), Andita Purnama Sari (Indonesia), Arie Dyanto (Indonesia), Aries Perbawa (Indonesia), Bagus Pandega (Indonesia), Baihaqi Hasan (Indonesia), Bestrizal Besta (Indonesia), Cecilia Patricia Untario (Indonesia), Chai Zhi Song (Cina), Daliana Suryawinata & Andra Matin (Indonesia), Frans Gupta (Indonesia), Gabriel Aris Setiadi (Indonesia), Herra Pahlasari (Indonesia), I Putu Edy Asmara (Indonesia), Itsnaini Rahmadillah (Indonesia), Iwan Yusuf (Indonesia), Jenny Lee (Indonesia), Julia Burns & Enrica Ho (Australia & Hong Kong), Julie Rrap (Australia), Julnaidi M. S. (Indonesia), Jumadi (Indonesia), Kurniawati Gautama (Indonesia), Laksmi Sitaresmi (Indonesia), Meng Shu You (Taiwan), Priyanto “Omplong” (Indonesia), Putriani Mulyadi (Indonesia), Setyo Priyo Nugroho (Indonesia), Stina Phersdotter (…..), Syahroni Lantang (Indonesia), Taufik Monyong (Indonesia), The Why Factor (Indonesia-Belanda), Theo Frids Hutabarat (Indonesia), Valentinus Rommy Iskandar Tanubrata (Indonesia), vonny Ratna Indah (Indonesia), Wibowo Adi Utomo (Indonesia), Zico Albaiquni (Indonesia).

A.C. Andre Tanama (Indonesia), Anang Saptoto (Indonesia), Andi Ramdani (Indonesia), Ariswan Aditama (Indonesia), Ayu Arista Murti (Indonesia), Badari (Indonesia), Bonita Margaret (Indonesia), Bunga Jeruk (Indonesia), Cahyo Basuki Yopi (Indonesia), Dendi Darman (Indonesia), Deni Rahman (Indonesia), Dona Prawita Arissuta (Indonesia), Dunadi (Indonesia), Entang Wiharso (Indonesia), Eric Wirjanata (Indonesia), Eriyanto (Indonesia), Gentur Suria (Indonesia), Handy Hermansyah (Indonesia), I Nyoman Agus Wijaya (Indonesia), I Nyoman Udiantara (Indonesia), Komunitas Wijaya Kusuma & Prabhoto Satrio (Indonesia), MR Adytama Pranada (Indonesia), Pink Girl Go Wild (Indonesia), Ranna Pramulya (Indonesia), Recycle Experience (Indonesia), Robet Kan featuring Sasta (Indonesia), Rocka Radipa (Indonesia), Sigit Bapak (Indonesia), Sun Wahyudi Kusuma (Indonesia), Taufik Monyong (Indonesia), Taufiq Panji Wisesa (Indonesia), Teguh Agus Priyanto (Indonesia), William Wahyu Waluyo (Indonesia), Zaldy Alamsyah (Indonesia).

Jatiwangi Art Factory (Indonesia), Angki Purbandono (Indonesia), Common Room Network Foundation (Indonesia), Heini Aho (Finlandia), Ivana Stojakovic (Serbia), Jompet Kuswidananto (Indonesia), Komunitas Berkat Yakin (Indonesia), Komunitas Memo (Indonesia), Main Theater (Indonesia), Marintan Sirait (Indonesia), Mimi Fadmi (Indonesia), Raffi Achmad (Indonesia), Ritchie Ned Hansel (Indonesia), Rumah Proses (Indonesia), Sandra Nyberg (Finlandia), Sarah Lena Dorn (Jerman ), Ucu Agustin (Indonesia).

Ambitext (Indonesia), Artura Insanindo (Indonesia), Komunitas Atap Alis (Indonesia), Close Act Theatre (Indonesia), Heri Dono (Indonesia), Jalan Baru (Indonesia), Kelompok 12 Pas (Indonesia), Komunitas Pecinta Kertas (Indonesia), Irawan Karseno & Leny Ratnasari Weichert (Indonesia), Pertunjukkan Seni Di Sungai Ciliwung (Indonesia), Quint, Propagraphic, Begoendal & Egauseless (Indonesia), Reflect (Indonesia), Serrum (Indonesia), Teater Bejana (Indonesia), Teater Studio Indonesia (Indonesia), The Light Surgeons (Inggris), Tiga De Studio (Indonesia), Tisna Sanjaya (Indonesia), Wedha Pop Art Portrait (WPAP) Community (Indonesia).

Jakarta Biennale 2013

SIASAT (Strategies)
Plaza dan rubanah Taman Ismail Marzuki
9-30 November 2013
Direktur Artistik: Ade Darmawan
Kurator Utama: Hafiz Rancajale (Indonesia)

Pada 2013, Jakarta Biennale tiba pada penyelenggaraan yang ke-15. “Siasat” dipilih sebagai tema. Melalui “Siasat”, Jakarta Biennale 2013 ingin memeriksa ulang posisi dan praktik artistik warga dalam menyiasati segala keterbatasan, ketidakstabilan, masalah, ancaman, potensi maupun kesempatan yang dihadapi di ruang kota dan bagaimana siasat-siasat tersebut lahir secara organik, tumbuh secara mengejutkan, serta membentuk struktur dan pola tersendiri hingga akhirnya berperan dalam kehidupan kota. Siasat-siasat itu tumbuh di kota Jakarta yang telanjur terfragmentasi, yang tak memberikan pengalaman ruang utuh maupun menyeluruh bagi warganya. Itu mengapa sejak 2009 Jakarta Biennale tidak hanya menampilkan karya-karya di ruang pamer, tapi juga mengadakan proyek seni dan intervensi artistik di ruang kota. Jakarta Biennale 2013 mencoba memperluas pengalaman artistik di wilayah-wilayah yang belum banyak tersentuh oleh kegiatan seni rupa kontemporer seperti wilayah Timur, Barat, dan Utara. Para seniman, baik individu maupun kelompok, dari dalam maupun luar negeri, ditantang untuk mengolah gagasan artistiknya di ruang publik, yang dalam perhelatan tahun ini terwujud di pasar, taman, tembok-tembok kota, sekolah, dan permukiman. Di tataran selanjutnya, sangat penting untuk melihat praktik-praktik seni rupa yang melibatkan diri dengan persoalan sosial masyarakat ini sebagai bagian dari pergumulan sehari-hari, agar tak cuma dirayakan tapi juga dipertanyakan, dikritisi, dan dioptimalkan. Oleh karena itu, fokus kali ini adalah pada karya-karya berbasis proyek, riset, kerja lintas disiplin, maupun kerja bersama yang melibatkan partisipasi warga.

Seniman:
Abdulrahman Saleh aka Maman (Indonesia), ACE HOUSE Collective (Indonesia), Agan Harahap (Indonesia), Akumassa (Indonesia), Anton Ismael (Indonesia), ArtLab ruangrupa (Indonesia) & Keg de Souza (Australia), Awan Simatupang (Indonesia), Babi Badalov (Azerbaijan/Prancis), CASCO (Belanda), Danuri aka Pak Nur (Indonesia), Davy Linggar (Indonesia), Eko Nugroho (Indonesia), Enrico Halim (Indonesia), Etienne Turpin (Kanada), Fintan Magee (Australia), Françoise Huguier (Prancis), Guntur Wibowo (Indonesia), Ho Tzu Nyen (Singapura), Icaro Zorbar (Kolumbia), Jatiwangi Art Factory & Trotoart (Indonesia), Jimmy Ogonga (Kenya), Julia Sarisetiati (Indonesia), Kelas Pagi (Indonesia), Khaled Jarrar (Palestina), Kunst Republik (Jerman), Lifepatch Collaboration (Indonesia), Lost Generation (Malaysia), Melati Suryodarmo (Indonesia), Mella Jaarsma & Nindityo Adipurnomo (Indonesia), Mixrice (Korea Selatan), Moelyono (Indonesia), MR Adytama Pranada (Indonesia), Mufti Priyanka aka Amenk (Indonesia), Narpati Awangga aka oomleo (Indonesia), Paul Mondok (Filipina), Riyan Riyadi aka The Popo (Indonesia), Rizky Aditya Nugroho aka Bujangan Urban (Indonesia), Ruli Bandhriyo aka Rolly LoveHateLove (Indonesia), Saleh Husein (Indonesia), Sanggar Anak Akar (Indonesia), Sebastian Diaz Morales (Argentina), SERRUM & Dinas Artistik Kota (Indonesia), TRANZIT (Republik Ceko), Visual Arts Network of South Africa/VANSA (Afrika Selatan), Wok the Rock (Indonesia), Xu Tan (China), Yusuf Ismail (Indonesia).

Jakarta Biennale 2015

Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang
Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta
15 November 2015 – 10 JanuarI 2016
Kurator Utama: Charles Esche (Inggris)
Kurator: Anwar Rahman, Asep Topan, Benny Wicaksono, Irma Canthily, Riksa Afiaty (Indonesia)

Memusatnya medan seni rupa Indonesia di Pulau Jawa, khususnya hanya pada tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, membuat JB melihat pentingnya memperluas jaringan praktik dan pengetahuan seni rupa ke berbagai kota di belahan lain Indonesia. Melibatkan kurator dan seniman dari beberapa kota lain menjadi sangat relevan untuk menciptakan dialog lintas penjuru.  Diharapkan keterlibatan praktisi seni rupa—kurator, seniman, komunitas—dari berbagai kota di Indonesia dapat menawarkan ekspresi dan pengetahuan tentang praktik lokal di berbagai daerah, yang dapat ditawarkan lebih lanjut kepada masyarakat lebih luas, selain membuka peluang untuk saling berbagi. Tentu saja, JB juga ingin menunjukkan kondisi sosial budaya kontemporer di daerah lain di Indonesia, melalui karya-karya seni rupa dalam bienal ini.

Seniman:
Agung Kurniawan (Yogayakarta, Indonesia), Annisa Rizkiana Rahmasari (Semarang, Indonesia), Aprilia Apsari (Jakarta, Indonesia), Arahmaiani (Yogyakarta, Indonesia), Araya Rasdjarmrearnsook (Chiang Mai, Thailand), Ariani Darmawan (Bandung, Indonesia), Bamboo Curtain Studio (New Taipei, Yunlin, Taiwan), Bik Van der Pol (Rotterdam, Belanda), Bron Zelani (Jakarta, Indonesia), Clara Ianni & Débora Maria da Silva (Sao Paulo, Brazil), Cooperativa Cráter Invertido (Mexico City, Meksiko), Cut Putri (Banda Aceh, Indonesia), Dan Perjovschi (Bucharest, Romania), Dea Widya (Makassar, Indonesia), Dieneke Jansen (Auckland, Selandia Baru), Dwi “Ube” Wicaksono Suryasumirat (Jakarta, Indonesia), Etcétera (Buenos Aires, Argentina), Evelyn Pritt (Jakarta, Indonesia), Firman Djamil (Makassar, Indonesia) ,Fuady Keulayu (Banda Aceh, Indonesia), Idrus bin Harun (Banda Aceh, Indonesia), Iswadi Basri (Banda Aceh, Indonesia), Jakarta Wasted Artists (Jakarta, Indonesia), Jeremy Millar (London, Inggris), Jonas Sestakresna (Denpasar, Indonesia), Juan Pérez Agirregoikoa (San Sebastian, Prancis), Köken Ergun (Istanbul, Turki), Kolatt (Yangon, Myanmar), Komunitas Quiqui (Makassar, Indonesia), Lab Laba Laba (Jakarta, Indonesia), Leonardiansyah Allenda (Banyuwangi, Indonesia), Lifepatch (Yogyakarta, Indonesia), M. Cora (Makassar, Indonesia), Maddie Leach (Wellington, Selandia Baru), Maika Elan (Hanoi, Vietnam), Marishka Soekarna (Depok, Indonesia), Mark Salvatus (Manila, Filipina), Maryanto (Yogyakarta, Indonesia), Meiro Koizumi (Yokohama, Jepang), Melawan Kebisingan Kota (Surabaya, Indonesia), Merv Espina (Manila, Filipina), Miebi Sikoki (Jakarta, Indonesia), Ng Swan Ti (Jakarta, Indonesia), Nobodycorp. Internationale Unlimited (Yogyakarta, Indonesia), NUR (Jakarta, Indonesia), Octora (Bandung, Indonesia), Oscar Muñoz (Cali, Kolumbia), Peter Robinson (Auckland, Selandia Baru), Post-Museum (Singapura), Pratchaya Phinthong (Bangkok, Thailand), Renzo Martens (Amsterdam, Belanda), Reza Afisina (Depok, Indonesia), Reza Enem (Makassar, Indonesia), Richard Bell (Brisbane, Australia), Sanchia T. Hamidjaja (Jakarta, Indonesia), Setu Legi (Yogyakarta, Indonesia), SUPERFLEX (Kopenhagen, Denmark), Surya Wirawan (Yogyakarta, Indonesia), The Youngrrr (Jakarta, Indonesia), Tisna Sanjaya (Bandung, Indonesia), Tita Salina (Jakarta, Indonesia), Tom Nicholson (Melbourne, Australi) dengan Grace Samboh (Yogyakarta, Indonesia), Tromarama (Bandung, Indonesia), Wiyoga Muhardanto (Bandung, Indonesia), Wonderyash (Jakarta, Indonesia), Yee I-Lann (Kuala Lumpur, Malaysia), Yongseok Jeon (Seoul, Korea Selatan), Yoppy Pieter (Jakarta, Indonesia), Zeyno Pekünlü (Istanbul, Turki), Zulhiczar Arie (Yogyakarta, Indonesia).

Jakarta Biennale 2017

JIWA
Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik
4 November – 11 Desember 2017
Direktur Eksekutif: Ade Darmawan
Direktur Artistik: Melati Suryodarmo (Indonesia)
Kurator: Philip Pirotte (Belgia), Vit Havranek (Republik Ceko), Hendro Wiyanto (Indonesia), Annisa Gultom (Indonesia)

“JIWA: Jakarta Biennale 2017” diselenggarakan sebagai usaha untuk terus memperkaya dan memperluas pengalaman artistik dan daya kritis publik dalam mendekati fenomena kenyataan kontemporer dengan cara yang lebih kontemplatif dan indrawi. Konsep “Jiwa” ditawarkan untuk membahas berbagai masalah dan pertanyaan mengenai seni dan budaya kontemporer. Jiwa dapat diartikan sebagai sebuah dorongan dasar manusia, kebersamaan, masyarakat, alam, serta segala sesuatu yang bersifat rohaniah dan tak kasat mata.

Tiga buku diterbitkan seiring penyelenggaraan bienial. Buku-buku tersebut adalah Melampaui Citra dan Ingatan, kumpulan tulisan seni rupa Bambang Bujono dari 1968–2017; Dari Kandinsky Sampai Wianta, catatan-catatan Siti Adiyati dari 1975–1997; dan Seni Manubilis, yang berisikan ulasan, tulisan, dan arsip mengenai Semsar Siahaan. Selain itu, diadakan pula berbagai lokakarya yang menghadirkan seniman sebagai pengajar di beberapa sekolah yang diundang bekerjasama.

Seniman:
Abdi Karya (Indonesia), Afrizal Malna (Indonesia), Alastair McLennan (Irlandia Utara), Ali Al-Fatlawi & Wathiq Al-Ameri (Swiss), Aliansyah Caniago (Indonesia), Arin Rungjang (Thailand), Chiharu Shiota (Jepang/Jerman), Choy Ka Fai (Singapura), Darlane Litaay (Indonesia), Dineo Seshee Bopape (Afrika Selatan), Dolorosa Sinaga (Indonesia), Eva Kotátková (Republik Ceko), Gabriela Golder (Argentina), Hanafi (Indonesia), I Made Djirna (Indonesia), Imhathai Suwatthanasilp (Thailand), Jason Lim (Singapura), Karrabing Film Collective (Australia), Keisuke Takahashi (Jepang), Kiri Dalena (Filipina), Luc Tuymans (Belgia), Marintan Sirait (Indonesia), Rama Surya (Indonesia), Ratu Saraswati (Indonesia), Robert Zhao (Singapura), Semsar Siahaan (Indonesia), Siti Adiyati (Indonesia), Vasil Artamonov & Alexey Klyuykov (Republik Ceko), Willem de Rooij (Belanda), Wukir Suryadi (Indonesia), Yola Yulfianti (Indonesia).