Lost Generation, ‘Urban Memory’, installation various dimensions, Jakarta Biennale 2013
Mella Jarsma _ Nindityo Adipurnomo, ‘The Ones Left Behind’, video installation, Jakarta Biennale 2013
Tranzit-Lawrence Weiner, ‘Encylopedia of Failure’, project presentation, various dimensions, Jakarta Biennale 2013

Jakarta Biennale 2013

SIASAT (Strategies)
Plaza dan rubanah Taman Ismail Marzuki
9-30 November 2013
Direktur Artistik: Ade Darmawan
Kurator Utama: Hafiz Rancajale (Indonesia)

Pada 2013, Jakarta Biennale tiba pada penyelenggaraan yang ke-15. “Siasat” dipilih sebagai tema. Melalui “Siasat”, Jakarta Biennale 2013 ingin memeriksa ulang posisi dan praktik artistik warga dalam menyiasati segala keterbatasan, ketidakstabilan, masalah, ancaman, potensi maupun kesempatan yang dihadapi di ruang kota dan bagaimana siasat-siasat tersebut lahir secara organik, tumbuh secara mengejutkan, serta membentuk struktur dan pola tersendiri hingga akhirnya berperan dalam kehidupan kota. Siasat-siasat itu tumbuh di kota Jakarta yang telanjur terfragmentasi, yang tak memberikan pengalaman ruang utuh maupun menyeluruh bagi warganya. Itu mengapa sejak 2009 Jakarta Biennale tidak hanya menampilkan karya-karya di ruang pamer, tapi juga mengadakan proyek seni dan intervensi artistik di ruang kota. Jakarta Biennale 2013 mencoba memperluas pengalaman artistik di wilayah-wilayah yang belum banyak tersentuh oleh kegiatan seni rupa kontemporer seperti wilayah Timur, Barat, dan Utara. Para seniman, baik individu maupun kelompok, dari dalam maupun luar negeri, ditantang untuk mengolah gagasan artistiknya di ruang publik, yang dalam perhelatan tahun ini terwujud di pasar, taman, tembok-tembok kota, sekolah, dan permukiman. Di tataran selanjutnya, sangat penting untuk melihat praktik-praktik seni rupa yang melibatkan diri dengan persoalan sosial masyarakat ini sebagai bagian dari pergumulan sehari-hari, agar tak cuma dirayakan tapi juga dipertanyakan, dikritisi, dan dioptimalkan. Oleh karena itu, fokus kali ini adalah pada karya-karya berbasis proyek, riset, kerja lintas disiplin, maupun kerja bersama yang melibatkan partisipasi warga.

Seniman:
Abdulrahman Saleh aka Maman (Indonesia), ACE HOUSE Collective (Indonesia), Agan Harahap (Indonesia), Akumassa (Indonesia), Anton Ismael (Indonesia), ArtLab ruangrupa (Indonesia) & Keg de Souza (Australia), Awan Simatupang (Indonesia), Babi Badalov (Azerbaijan/Prancis), CASCO (Belanda), Danuri aka Pak Nur (Indonesia), Davy Linggar (Indonesia), Eko Nugroho (Indonesia), Enrico Halim (Indonesia), Etienne Turpin (Kanada), Fintan Magee (Australia), Françoise Huguier (Prancis), Guntur Wibowo (Indonesia), Ho Tzu Nyen (Singapura), Icaro Zorbar (Kolumbia), Jatiwangi Art Factory & Trotoart (Indonesia), Jimmy Ogonga (Kenya), Julia Sarisetiati (Indonesia), Kelas Pagi (Indonesia), Khaled Jarrar (Palestina), Kunst Republik (Jerman), Lifepatch Collaboration (Indonesia), Lost Generation (Malaysia), Melati Suryodarmo (Indonesia), Mella Jaarsma & Nindityo Adipurnomo (Indonesia), Mixrice (Korea Selatan), Moelyono (Indonesia), MR Adytama Pranada (Indonesia), Mufti Priyanka aka Amenk (Indonesia), Narpati Awangga aka oomleo (Indonesia), Paul Mondok (Filipina), Riyan Riyadi aka The Popo (Indonesia), Rizky Aditya Nugroho aka Bujangan Urban (Indonesia), Ruli Bandhriyo aka Rolly LoveHateLove (Indonesia), Saleh Husein (Indonesia), Sanggar Anak Akar (Indonesia), Sebastian Diaz Morales (Argentina), SERRUM & Dinas Artistik Kota (Indonesia), TRANZIT (Republik Ceko), Visual Arts Network of South Africa/VANSA (Afrika Selatan), Wok the Rock (Indonesia), Xu Tan (China), Yusuf Ismail (Indonesia).