Jakarta Biennale

Jakarta Biennale merupakan perhelatan akbar seni rupa kontemporer Indonesia yang dilangsungkan setiap dua tahun sekali. Pertama kali digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1968 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia. Sejak 2009, Jakarta Biennale diselenggarakan dalam skala internasional.

Sejarah

Pada awalnya, Jakarta Biennale diadakan dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia pada 1968, bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seiring dengan perubahan besar di bidang seni rupa, terutama dalam hal bentuk serta gagasan, pameran ini berkembang dengan menjajaki berbagai ide dan melibatkan publik dalam program-programnya. Salah satu perubahan mendasar pada seni rupa Indonesia ialah kemunculan insiden Desember Hitam pada 1974.

Desember Hitam merupakan protes seniman muda Indonesia terhadap konsep aestetik mapan yang diusung Pameran Besar Seni Lukis Indonesia. Insiden ini membuat Pameran Besar Seni Lukis Indonesia berubah nama menjadi Jakarta Biennale (seni lukis) pada 1975, kemudian Biennale Fine Arts pada 1993.

Biennale sempat mengalami kekosongan panjang akibat pergolakan sosial-politik dan pergantian kekuasaan pemerintah Indonesia pasca-1998. Selama periode ini, kancah seni Indonesia kehilangan standar pengukuran yang telah berlangsung selama tiga dekade. Namun, periode ini juga mendorong DKJ untuk meninjau Biennale agar lebih siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dan kompleks di masa depan.

Biennale kembali digelar depalan tahun kemudian dengan judul Jakarta Biennale 2006 yang terdiri dari tiga pameran Beyond, Milestone, dan The Others. Pada 2015, Jakarta Biennale diselenggarakan oleh Yayasan Jakarta Biennale setelah sebelumnya diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Jakarta Biennale 2015 bertema Maju Mundur Kena: Bertindak Sekarang menghadirkan berbagai kegiatan budaya untuk dinikmati oleh warga Jakarta sebagai cara untuk memahami kota, daerah yang bergerak dan terus berubah. 

Dua tahun kemudian, Jiwa: Jakarta Biennale 2017 digelar di Gudang Sarinah Jakarta sepanjang November hingga Desember tahun tersebut. Pembahasan kali itu difokuskan pada persoalan-persoalan tentang dorongan dasar manusia yang menggerakkan berbagai rasa, indera, serta wawasan. Kendati terasa lebih personal, namun Jiwa tetap berusaha untuk terus memperkaya dan memperluas pengalaman artistik dan daya kritis publik dalam mendekati berbagai realitas kontemporer dengan cara yang lebih sublim dan kontemplatif.

KRONIK

2006: Jakarta Biennale “Beyond, Milestone, and The Others”

2009:  Arena

2011-2012: Maximum City: Survive or Escape?

2013: Siasat

2015: Maju Kena Mundur Kena Bertindak Sekarang

2017: JIWA

2021: ESOK

VISI

  • Menciptakan ruang kota yang kreatif, partisipatif, dan kolaboratif bagi warga warga kota
  • Mengembangkan wacana kebudayaan dan seni rupa yang menginspirasi masyarakat
  • Menghadirkan karya-karya seni rupa kontemporer berskala nasional dan internasional di Jakarta
  • Mewujudkan kolaborasi dengan berbagai pihak: pemerintah, warga, seniman, dan pekerja kreatif dalam menciptakan kota budaya serta mengembangkan ekonomi kota.

MISI

  • Meningkatkan apresiasi publik atas praktek wacana seni rupa kontemporer
  • Memberikan pengalaman baru yang inspiratif dan partisipatif bagi warga kota
  • Mengembangkan pengalaman seni dan budaya kepada masyarakat melalui edukasi publik
  • Menawarkan gagasan yang relevan, penting, dan aktual dalam baik dalam konteks nasional maupun internasional
  • Mendayagunakan parasarana seni dan budaya secara optimal
  • Menyelenggarakan kegiatan seni rupa internasional dengan tawaran wacana dan gagasan terbaru.