Pengantar Kuratorial

“Sekarang saatnya kita mengonsolidasi imajinasi dan kreativitas, tanpa takut akan ancaman terhadap ekspresi seni dan budaya demi keberlangsungan dan warisan kemanusiaan.”
Dolorosa Sinaga (Direktur Artistik, Jakarta Biennale 2021)

Memasuki dekade baru di milenium ini, gejolak perubahan semakin deras: dari pergeseran politik global, polarisasi massa, isu keberagaman, disrupsi digital, perubahan iklim, hingga pandemi global Covid-19.

Usai pesta demokrasi 2019, Jakarta mulai berbenah dengan perbaikan infrastruktur kota dan keterbukaan terhadap budaya generasi baru yang menyemarakkan kehidupan urban Jakarta. Kita dipaksa mencari solusi permasalahan bersama sekaligus menguji solidaritas kemanusiaan. Namun, krisis yang disebabkan pandemi global COVID-19 memberikan tantangan lebih jauh, tak hanya bagi Jakarta dan Indonesia, tetapi juga seluruh dunia, akan sebuah masa depan di mana kemanusiaan begitu rentan akan hadirnya ancaman biologis, seperti virus dan mutasi-mutasi baru dalam ekosistem hidup manusia. Segala tantangan ini menyodorkan ranah peluang bagi seni rupa kontemporer generasi baru untuk berkontribusi sehubungan dengan isu-isu sosial pada dekade kedua milenium ini.

Berbagai permasalahan di atas telah menimbulkan pertanyaan: bagaimana masa depan Jakarta, Indonesia, dan dunia? Masa depan manusia? Melalui pertanyaan ini, Jakarta Biennale sebagai platform seni rupa sebuah kota, yang menjadi pusat pengambilan keputusan di negeri ini, berikhtiar mengakomodir praktik seni rupa terkini dalam membicarakan isu-isu global. Langkah ini juga sebagai upaya penanda momentum perkembangan seni rupa Indonesia dan penentuan arahnya ke depan.

Pada 2021 mendatang, Jakarta Biennale akan mengusung tema “ESOK—Membangun Sejarah Bersama”  Melalui tema ini kami ingin menerawang jauh ke depan, sembari melihat masa lalu dan merenungkan masa kini. Kami ingin menyerukan eksplorasi segala kompleksitas ruang dan masyarakat Jakarta untuk membayangkan esok kita bersama. Apa pun yang terjadi di masa depan, Jakarta adalah parameter Indonesia.

Untuk mengelaborasi tema tersebut, kami mengundang Dolorosa Sinaga—salah satu pematung ternama Indonesia, pengajar di Institut Kesenian Jakarta, dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM)—sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale 2021. “Seni adalah warisan kita untuk esok. Jakarta Biennale 2021 memanggil suara-suara kepedulian akan isu-isu kemanusiaan, penyalahgunaan kuasa akan ekspresi seni dan budaya, kehancuran lingkungan, perampasan hak kesejahteraan dan kesetaraan gender,” ia menandaskan dalam pernyataan artistik.

Dolorosa akan menentukan arahan artistik dan mengundang para kurator, perupa, dan kolektif seni untuk merespons “ESOK—Membangun Sejarah Bersama” dan memikirkan berbagai isu yang harus kita jawab untuk masa depan yang lebih baik. Arahan tersebut nantinya akan dieksplorasi melalui dua jalur pendekatan artistik:

  1. Seni rupa di ruang publik: seni patung kontemporer, instalasi luar ruang, performans khas tapak, dan berbagai platform seni rupa publik lainnya.
  2. Arsip sebagai medium artistik: mengeksplorasi, memikirkan kembali sejarah dan masa depan melalui berbagai penggunaan/eksperimentasi arsip sebagai medium seni visual.

 

Selanjutnya, premis artistik ini direalisasikan melalui program-program yang berlandaskan pada kontribusi Indonesia kepada dunia, kebebasan berekspresi, dan produksi pengetahuan.