Tentang Jakarta Biennale

Perhelatan ini pertama kali digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1968 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia dan menjadi ajang seni berskala internasional sejak 2009. Sedari mula Jakarta Biennale telah selalu berupaya menciptakan ruang kota yang kreatif, partisipatif, dan kolaboratif bagi warganya hingga hari ini.

Kolaborasi selalu digalang dengan berbagai pihak, baik pemerintah, warga, seniman, maupun ekosistem pekerja kreatif, dalam menghidupkan dinamika budaya kota serta mengembangkan ekonomi kota. Tema-tema yang dipilih dalam tiap penyelenggaraan adalah wujud upaya mengembangkan wacana kebudayaan dan seni rupa.

Khususnya yang menginspirasi dan memantik percakapan untuk menyikapi perubahan yang senantiasa berlangsung di segala lini kehidupan masyarakat.

Ujaran yang menyarankan bahwa pengalaman adalah sarana edukasi terbaik masih kami yakini. Lewat interaksi masyarakat dengan karya-karya seni rupa kontemporer dari dalam dan luar negeri yang dipamerkan, Jakarta Biennale (JB) berharap dapat memberi pengalaman baru yang partisipatif dan inspirasional bagi warga, demi meningkatkan apresiasi publik atas praktik seni rupa kontemporer.

Lebih dari itu, Jakarta Biennale memantapkan diri untuk konsisten mendayagunakan prasarana seni dan budaya secara optimal. Dengan demikian, ajang ini selalu mampu menawarkan gagasan yang relevan, penting, dan aktual baik dalam konteks nasional maupun internasional.