Fassih Keiso

Perang, perpindahan, migrasi, dan ingatan sejarah menjadi bagian dari praktik Fassih Keiso. Seniman multidisipliner keturunan Australia-Suriah yang berbasis di Melbourne ini bekerja melalui fotografi, instalasi, moving image, lukisan, dan performans. Dari pengalaman personal dan konteks geopolitik yang lebih luas, ia melihat bagaimana kekuatan politik, institusi, dan sejarah membentuk kehidupan seseorang.

Alih-alih melihat sejarah sebagai rangkaian peristiwa yang telah selesai, Keiso tertarik pada apa yang tersisa setelahnya: apa yang dibawa tubuh, diingat melalui benda, melekat pada suatu tempat, tersimpan atau hilang dari arsip, dan diwariskan antargenerasi. Pada 2026, Keiso menjalani residensi di Yogyakarta melalui Project 11, berkolaborasi dengan Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan musisi eksperimental Indonesia dalam sebuah pertunjukan musik dan visual di Museum Dan Tanah Liat.

______________

War, displacement, migration, and historical memory are central to Fassih Keiso’s practice. The Melbourne-based Australian/Syrian multidisciplinary artist works across photography, installation, moving image, painting, and performance. Drawing from personal experience and broader geopolitical contexts, he examines how political, institutional, and historical forces shape individual lives.

Rather than viewing history as a sequence of events that has already come to an end, Keiso is interested in what remains in its aftermath: what is carried by the body, remembered through objects, embedded in places, preserved or lost in archives, and passed down through generations. In 2026, Keiso undertook a residency in Yogyakarta through Project 11, collaborating with the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta and Indonesian experimental musicians on a live music and visual performance at Museum Dan Tanah Liat.

Scroll to Top