Majelis Jakarta
Sejak 2024 hingga kini, Jakarta Biennale dijalankan oleh Majelis Jakarta, sebuah jejaring terbuka dari berbagai inisiatif seni di Jakarta. Majelis Jakarta terdiri dari Atelir Ceremai, Asosiasi Pematung Indonesia–Jakarta, Binatang Press!, Cut and Rescue, Galeri Saku Kolektif, Girls Pay the Bills, Gudskul Ekosistem, Jakarta Wasted Artists, Kelas Pagi Indonesia, Komunitas Paseban, Panna Foto Institute, Rajutkejut, Sekolah Sablon Indonesia, Serrum Art Handling, Setali Indonesia, TrotoArt. Kolektif-kolektif ini adalah mereka yang dengan satu dan lain cara sudah bersinggungan dan menjadi bagian dari Jakarta Biennale sebelum edisi 2024. Mereka juga adalah kolektif yang memiliki pendekatan, dan praktik berkesenian masing-masing, serta berfokus pada isu yang berbeda-beda. Dalam Majelis Jakarta, perbedaan-perbedaan tersebut menjadi fragmen-fragmen yang saling melengkapi hingga membentuk gambaran yang lebih menyeluruh tentang lanskap ekosistem seni di Jakarta. Dengan basis nilai kolektivitas di dalam praktik kerjanya, Majelis Jakarta mulai berkumpul, bermusyawarah, berbagi gagasan dan sumber daya secara setara pada 2023. Bersama Majelis Jakarta, Jakarta Biennale kembali pada semangat awalnya: inisiatif dari para seniman dan pekerja seni yang merdeka. Dengan demikian, Jakarta Biennale diharapkan bisa terus menjadi wadah yang memperkuat keberlangsungan ekosistem seni di Jakarta, dan secara umum juga, Indonesia.
Since 2024, Jakarta Biennale has been organized by Majelis Jakarta (Jakarta Assembly), an open network of various art initiatives in Jakarta. Majelis Jakarta has been assembling since 2023, with the collectivist values serving as its foundation: coming together, opening discussions, sharing ideas and resources equally. With Majelis Jakarta, Jakarta Biennale returns to its original spirit: done by and for artists and art workers independently. Jakarta Biennale is intended to continue functioning as a platform to strengthen the sustainability of the existing art ecosystems in Jakarta and Indonesia.