Fadriah Syuaib

Dari Ternate, Fadrie mengembangkan praktik seni yang berangkat dari persoalan ketidakadilan historis dan lingkungan, budaya patriarki, serta ketidaksetaraan gender. Sebagai seniman perempuan dari Maluku Utara, ia juga aktif memperkenalkan dan mengembangkan seni di wilayahnya, sembari membawa praktiknya ke berbagai ruang pamer di Indonesia dan luar negeri.

Di Ternate, Fadrie terus mengembangkan program seni dan membangun ekosistem seni rupa melalui komunitas yang ia kelola. Praktiknya menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi seni dan seniman di Maluku Utara. Fadrie adalah salah satu seniman yang akan hadir dalam Jakarta Biennale 2026: KEBAL.

___________

From Ternate, Fadrie develops an artistic practice rooted in issues of historical and environmental injustice, patriarchal culture, and gender inequality. As a woman artist from North Maluku, she is also active in promoting and developing the arts in her region, while bringing her practice to exhibition spaces in Indonesia and abroad.

In Ternate, Fadrie continues to develop art programs and build the visual arts ecosystem through the community she runs. Her practice forms part of an ongoing effort to expand space for art and artists in North Maluku. Fadrie is one of the artists who will take part in Jakarta Biennale 2026: KEBAL.

Scroll to Top