Bagi Mereka yang (Menolak) Dilumpuhkan
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid
“Invictus,” William Ernest Henley, 1875
Pada 2009, Jakarta Biennale membuka arena bermain yang diperuntukkan bagi seniman dan warga Jakarta, masyarakat urban yang dipaksa untuk memilih: tinggal dan bertarung dengan, atau melarikan diri dari, masalah-masalah perkotaan yang merundung mereka. Karena senantiasa berada di posisi yang maju-kena-mundur-kena, warga yang kemudian memutuskan untuk tinggal pun beradaptasi dengan masalah itu, lalu menyusun siasat dengan kelihaian seorang seniman happening dalam menciptakan “gangguan” di ruang publik untuk meretasnya; akan selalu ada “joki,” misalnya, untuk mengatasi three-in-one, dan rumah-rumah “tobong” (toto-bongkar atau knock-down), serta kopi keliling atau “starling,” bagi harga sewa tanah dan bangunan yang tak sebanding dengan pendapatan rata-rata minimum.
Kelihaian masyarakat urban dalam menghadapi kebijakan-kebijakan pembangunan yang sering tak berpihak kepada mereka itulah yang membuat Kota Jakarta selalu berdenyut, terus hidup dan bertumbuh, serta menolak “selesai,” dan tetap menjadi ruang hidup bagi individu-individu yang tak mudah dibikin patuh. Ketidakpatuhan warga di atas lanskap Kota Jakarta seperti sapuan non-akademis kuas di atas kanvas para seniman penganut “jiwa ketok.” Ia lahir dari ketidakpuasan dan penolakan terhadap sesuatu yang dianggap tuntas secara sepihak. Ia adalah bagian dari jiwa Kota Jakarta.
Ketika COVID-19 datang, seperti juga warga dunia pada umumnya, warga Kota Jakarta pun patuh ketika pemerintah kota memerintahkan mereka untuk mengkarantina diri dalam rumah. Namun, harapan akan adanya hari esok yang lebih baik nampaknya akan selalu berhasil mengalahkan keputusasaan hari ini. Dalam waktu kurang dari dua tahun, seperti kemacetan beserta polusi udara dan suara yang menyertainya, warga kota ini telah “menerima” COVID-19 sebagai bagian dari dirinya.
Tahun ini, Jakarta Biennale diselenggarakan untuk yang ke-18 kalinya dengan tema, Kebal, kata sifat yang menggambarkan tidak hanya masyarakat urban di Kota Jakarta, melainkan juga di wilayah perdesaan dan perkotaan di seluruh dunia di bawah rundungan krisis global yang sebagian besar di antaranya merupakan akibat dari ketidakbecusan kaum elite dalam mengelola kekuasaan yang kita delegasikan kepada mereka. Kebal adalah penanda resiliensi masyarakat kontemporer di tengah ketidakpastian dunia hari ini
Di Tengah Pertikaian Para Titan
Disadari atau tidak, sebagai bagian dari warga dunia, kita tak hanya hidup bersama perubahan iklim yang ekstrim, melainkan juga bersama para penyangkalnya—yang tak kalah ekstrim. Sehingga, murka alam yang terus menerus diingkari itu bukan satu-satunya persoalan yang harus kita hadapi dan terima setidaknya dalam lima tahun belakangan ini. Masyarakat global hari ini juga harus berhadapan dengan langkah-langkah ekstrim yang diambil oleh segelintir pemimpin dunia.
Beriringan dengan menguatnya kelompok sayap kanan di sejumlah negara maju serta berpengaruh yang menyusun kebijakan-kebijakan diskriminatif berdampak global, warga dunia menjadi saksi atas terjadinya krisis kemanusiaan. Penjajahan atas Palestina oleh Israel dan sekutu mereka yang berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia II hanya salah satu di antaranya. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, pada Januari lalu Amerika Serikat (AS) membentuk Board of Peace (BoP), instrumen tata kelola transisi dan rekonstruksi pasca konflik di Jalur Gaza yang telah mendelegitimasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “penjaga perdamaian dunia” hingga menimbulkan keretakan Blok Barat dan Transatlantik. Tidak cukup sampai di sana, secara domestik Trump pun meradikalisasi U.S. Immigration and Custom Enforcement (ICE) yang menjadi semakin agresif dan mengancam sumber pendapatan jutaan keluarga di negara-negara Amerika Latin dan Karibia, serta Asia. Di Jerman, bantuan sosial untuk pencari suaka telah dialihkan ke bezahlkarte, kartu debit khusus yang membatasi penarikan uang tunai untuk mencegah pengiriman dana ke negara asal, sementara sejak 2021 lalu Prancis telah mengesahkan Loi pour une sécurité globale préservant les libertés, atau undang-undang keamanan global, yang memperluas wewenang polisi dan mengancam kebebasan pers serta jurnalisme internasional. Di Indonesia, lambatnya penanganan atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan beberapa waktu lalu telah membuat Singapura, Malaysia, dan Filipina melaporkan Indonesia ke Dewan ASEAN, hingga Jepang–yang memiliki masalahnya sendiri akibat kondisi alamnya yang tidak stabil–harus turun tangan.
Dan, itu semua hanya sebagian dari banyaknya konflik antar negara yang mau tak mau membawa imajinasi kita pada kemungkinan-kemungkinan akan adanya Perang Dunia. Dalam situasi yang demikian ini, masyarakat kontemporer tak ubahnya manusia biasa di tengah pertikaian para Titan dalam mitologi Yunani; penonton yang ikut menanggung dampak dari tingkah polah para pemimpin besar yang melihat dunia ini tak ubahnya arena bermain mereka sendiri. Dan kini, para penonton telah menanggung dampak dari konflik para Titan yang sudah merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari; percikan api di atas panggung politik dunia telah jatuh ke kantor-kantor dan pabrik-pabrik, pasar, hingga ke dapur-dapur serta kamar-kamar tidur.
Warga dunia, atau setidaknya Indonesia dalam hal ini, dihadapkan pada melemahnya nilai mata uang di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan serta perampasan tanah-tanah produktif yang di-‘legalisasi’ negara demi keuntungan para Titan; sementara masyarakat urban di seluruh dunia senantiasa hidup di bawah pengawasan ekstrim, ancaman deportasi yang beroperasi di atas dasar xenophobia, serta dibayang-bayangi konflik antar warga dan kekerasan domestik akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Lebih Aneh Dari Fiksi
“For truth is always strange,” demikian penulis asal Britania Raya, Lord Byron, menyampaikan dalam Don Juan (1823), “Stranger than fiction.” Masyarakat kontemporer menjalani kenyataan yang semakin hari terasa semakin aneh—keanehan yang bagi Byron bisa menjadi materi yang sangat menguntungkan untuk menciptakan novel atau fiksi–atau, karya seni secara umum.
Setelah diluluh-lantakkan oleh dua Perang Dunia, krisis kemanusiaan yang terjadi hari ini adalah tragedi yang aneh sekaligus menyedihkan, bahkan lebih menyedihkan dibanding drama serta novel paling tragis yang pernah dikarang oleh para pujangga. Sebab, di dunia nyata tidak ada Othello yang akan menyesali perbuatannya di ujung kisah. Krisis kemanusiaan hari ini nampak aneh, dan memang sudah seharusnya nampak aneh, bagi masyarakat kontemporer yang beradab karena setelah jutaan jiwa terenggut oleh perang, sisi kemanusiaan kita tak bisa menerima logika para pemimpin dunia yang masih menjalankan kekuasaan mereka di jalur kekerasan. Jutaan jiwa yang melayang di masa lalu yang tak terlalu jauh itu seakan tak cukup untuk membuat mereka menghindari kekerasan dalam menjalankan kekuasaannya demi menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan. Di Indonesia, kenyataan-kenyataan yang lebih aneh dari fiksi itu juga kita dapati. Para pengambil kebijakan serta pemangku kepentingan seringkali bertingkah lebih lucu dari para pelawak, sementara muslihat politik dijalankan secara blak-blakan hingga ke tingkat yang paling menggelikan; kalah subtil dari strategi para joki dalam menyiasati three-in-one, dan lebih komikal dari tokoh-tokoh dalam drama satir mana pun yang pernah dibuat para sineas. Belakangan ini, kita juga disuguhi peristiwa-peristiwa alam yang lebih mencengangkan dari pertunjukan mana pun di panggung-panggung teater atau performans dunia. Namun, serangkaian bencana alam yang datang silih berganti belakangan ini ternyata tak membuat industri ekstraktif berhenti beroperasi. Di bawah pemerintahan yang dijalankan secara ugal-ugalan, masyarakat urban dan perdesaan di seluruh dunia beserta alam dan lingkungan yang menghidupinya dibuat lebih kecil dan tak berarti dari sekrup-sekrup dalam mesin kekuasaan mereka.
Lalu, di tengah krisis global, devaluasi manusia serta kehancuran yang senantiasa mengintip di ujung sana, di mana seniman dan karya seni hari ini harus menempatkan dirinya?
Sejarah seni rupa dunia mengenal periode Modern, yakni masa ketika seniman dan karya seninya berada di posisi melawan sesuatu yang mapan atau dimapankan—dan sejak saat itu ia akan selalu berada di posisi tersebut. Pada periode yang berlangsung di lini masa yang berbeda untuk setiap wilayah tersebut, kelompok Impresionis di Eropa dan, beberapa tahun kemudian, para seniman Indonesia yang bergabung dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), didirikan untuk melawan teknik dan ekspresi yang dilembagakan—di Eropa oleh École des Beaux-Arts, sementara di Indonesia oleh naturalisme-eksotis ala mooi indie. Selanjutnya, Impresionisme membuka kemungkinan bagi datangnya beragam teknik dan ekspresi, dari abstrak hingga dada, sementara semangat antikolonialisme Persagi memungkinkan praktik berkolektif, metode belajar otodidak, dan berpolitik dalam berkesenian di Indonesia.
“Kenyataan lebih aneh dari fiksi,” kata penulis asal AS, Mark Twain, dalam karya travelognya, Following the Equator (1897), “sebab fiksi harus berpegang pada kemungkinan-kemungkinan, sementara kenyataan tidak.” Kemungkinan-kemungkinan itu, demikian Twain, harus dirancang selogis dan serealistis mungkin karena fiksi harus bisa meyakinkan pembacanya. Sementara itu, kenyataan para penguasa dan kaum elite didirikan demi menjaga status quo, sehingga dirancang sebisa mungkin untuk menutup jalan bagi datangnya segala kemungkinan yang berpotensi membawa perubahan. Logika dan realita tak menjadi alat ukur bagi mereka, dan itulah kiranya yang membuat kenyataan buatan mereka seringkali beroperasi di luar logika (manusia) sehingga tampak lebih aneh dari fiksi. Seni, dengan demikian, harus berpegang pada logika dan realita demi menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang pada gilirannya akan mengganggu status quo mereka.
Untuk menciptakan, atau setidaknya membayangkan, kemungkinan-kemungkinan dan situasi alternatif di luar kenyataan hari ini, kita harus terlebih dahulu memiliki semacam kekebalan terhadap sesuatu yang mapan; kekebalan yang membuat kita tak mudah patuh pada sistem, terutama jika sistem itu bersifat elite dan eksklusif, serta bertendensi menyangkal keberagaman; kekebalan yang di masa lalu dimiliki oleh kelompok Impresionis di Eropa dan para pelukis Persagi di Indonesia. Di tengah krisis global hari ini, yang mapan dan melembaga itu tak lain adalah kebebalan. Dan, terhadap kebebalan itulah kita harus kebal.
Menjadi Kebal, Menolak Dilumpuhkan
Jakarta Biennale 2026: Kebal mengambil inspirasi dari resiliensi dan resistensi masyarakat kelas pekerja di Jakarta dalam menjalani kehidupan di kota metropolitan yang senantiasa menyajikan ketidakpastian. Resiliensi yang dimaksud adalah daya tahan terhadap kondisi prekariat mereka, sementara resistensi merujuk pada perlawanan terhadap keadaan sulit yang dikondisikan. Kebal dalam tajuk Jakarta Biennale 2026 tak merujuk pada kondisi mati rasa. Sebab, rasa adalah bekal utama bagi seniman, dan masyarakat pada umumnya, untuk menjaga kewarasan di tengah sistem yang tidak berpihak pada kehidupan yang berkelanjutan saat ini. Kebal dalam tajuk Jakarta Biennale 2026 menyarankan kekebalan terhadap sistem tersebut, menggunakan rasa kemanusiaan kita untuk menolak tunduk padanya, serta tetap percaya pada kehidupan, sembari membuka diri untuk saling belajar pada resiliensi satu sama lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tak hanya untuk menjadi penyintas melainkan juga untuk merancang sistem kehidupan yang lebih manusiawi demi membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Resiliensi itu, salah satunya, mewujud dalam keberanian masyarakat urban di Jakarta dalam menembus kemacetan di bawah terik matahari dan pekatnya polusi udara, berdesakan dalam gerbong-gerbong Kereta Rel Listrik (KRL), atau Moda Raya Terpadu (MRT), serta armada Transjakarta, dalam menjalani kehidupan sehari-hari di tengah krisis global yang membuat kehidupan semakin tidak menentu ini. Semangat warga kelas pekerja di Jakarta, serta di wilayah perkotaan dan perdesaan lainnya di Indonesia maupun di sejumlah negara di dunia dalam menghadapi krisis global yang dampaknya telah merembes ke dalam tantangan hidup sehari-hari itulah yang menjadi tema utama Jakarta Biennale 2026. Sejalan dengan tema itu, para seniman Jakarta Biennale 2026 adalah mereka yang berpihak pada warga yang menolak dilumpuhkan oleh kebebalan serta kenyataan yang dirancang oleh kaum elite dan para penguasa. Karya-karya para seniman Jakarta Biennale 2026 terinspirasi dari kemampuan warga biasa untuk beradaptasi di tengah situasi sulit yang berada di luar kuasa mereka. Dalam hal ini, para seniman memposisikan diri mereka sebagai medium bagi suara-suara kelompok petani dan warga perdesaan yang tanahnya terdampak kapitalisme global, bangsa yang ditindas di tanahnya sendiri serta mereka yang diusir dan dicerabut dari tanah leluhurnya, juga buruh migran, kelompok perempuan, serta kaum marjinal lain yang mengalami diskriminasi secara struktural.
Salah satu sumber kekuatan warga biasa dalam menghadapi kekuatan yang lebih besar dari mereka adalah kolektivisme yang dipelihara dengan praktik silaturahmi. Selain disajikan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Biennale 2026 juga menyajikan format pameran Ruang Tamu yang disebar di beberapa titik di Jakarta dan dijalankan oleh kolektif-kolektif yang tergabung dalam Majelis Jakarta Biennale. Pameran Ruang Tamu dirancang untuk mengapresiasi sekaligus memelihara praktik silaturahmi antar warga. Sebab, di ruang tamu lah kekerabatan tak sedarah dijalin, dan individualisme mulai dinegosiasikan. Di ruang tamu pula kolektivisme ditanam dan dimatangkan. Di ruang tamu, kita memberi dan menerima. Melalui Ruang Tamu, Jakarta Biennale 2026 tak hanya mengajak audiens berinteraksi dengan karya, melainkan juga dengan warga dan lingkungan sekitarnya.
Ketika satu kakinya diamputasi di usia 16 tahun, penyair asal Britania Raya, William Ernest Henley, menulis, Invictus (1875), dan memungkasi sajaknya itu dengan dua bait yang berbunyi: I am the master of my fate; I am the captain of my soul. Di tengah situasi sosial, politik, geopolitik, dan ekonomi global yang tidak menentu, Jakarta Biennale 2026: Kebal diselenggarakan untuk menginspirasi warga Jakarta serta dunia agar lebih berani menjalani hidup, sekalipun jika kehidupan itu tidak menjanjikan apapun selain ketidakpastian. Dengan tajuk, Kebal, serangkaian program dalam Jakarta Biennale 2026 ingin mengingatkan bahwa dalam situasi sesulit apapun, kita adalah Tuan bagi takdir kita sendiri, juga kapten bagi jiwa kita sendiri. Pada akhirnya, baik yang sintas maupun yang tak bertahan layak diberi penghargaan, sebab kita tak melupakan apa yang belum kita capai.
Majelis Jakarta, 2026