Angkor Project adalah inisiatif yang didorong oleh kepedulian sosial untuk mendukung komunitas yang terpaksa mengungsi dari Angkor Archaeological Park dan kini dipindahkan ke tempat tinggal baru, lebih dari 25 km dari tanah leluhur mereka. Di tengah kondisi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, komunitas ini memiliki warisan budaya yang mendalam serta kisah-kisah yang sebagian besar belum terdengar.
Bersama kolaborator lokal dan internasional, Angkor Project mengembangkan lokakarya berbasis seni yang memungkinkan anggota komunitas menciptakan karya seni fungsional dan bentuk arsitektur berkelanjutan. Berlandaskan pengalaman hidup dan sejarah budaya masyarakat Angkor, proyek ini menjadi proses bercerita, penyembuhan, dan ketangguhan kolektif melalui seni yang diciptakan bersama.
_______________
From Ternate, Fadrie develops an artistic practice rooted in issues of historical and environmental injustice, patriarchal culture, and gender inequality. As a woman artist from North Maluku, she is also active in promoting and developing the arts in her region, while bringing her practice to exhibition spaces in Indonesia and abroad.
In Ternate, Fadrie continues to develop art programs and build the visual arts ecosystem through the community she runs. Her practice forms part of an ongoing effort to expand space for art and artists in North Maluku. Fadrie is one of the artists who will take part in Jakarta Biennale 2026: KEBAL.