Komik, musik, tato, dan seni rupa menjadi bagian dari perjalanan Athonk Sapto Raharjo sejak awal 1990-an. Seniman independen yang berbasis di Yogyakarta ini menyeberangi batas antar-medium, membawa semangat skena indie dan punk ke dalam karya grafis, lukisan, drawing, komik, hingga musik dan film.
Melalui Old Skull, misalnya, Athonk menghadirkan ikon tengkorak punk sebagai simbol kebebasan, perlawanan, resistensi, sekaligus humor. Ia juga mendirikan komunitas tato dan menjadi inisiator Java Tattoo Club pada 1997. Hingga kini, Athonk terus berkarya melalui komik, seni rupa, musik, dan film, termasuk mengembangkan Bad Time Stories ke dalam bentuk animasi. Athonk Sapto Raharjo adalah salah satu seniman yang akan hadir dalam Jakarta Biennale 2026: KEBAL.
________________
Comics, music, tattoos, and visual art have been part of Athonk Sapto Raharjo’s journey since the early 1990s. This independent artist based in Yogyakarta crosses boundaries between mediums, bringing the spirit of the indie and punk scenes into graphic art, painting, drawing, comics, music, and film.
Through Old Skull, for instance, Athonk presents the punk skull icon as a symbol of freedom, rebellion, resistance, and humor. He also founded a tattoo community and initiated the Java Tattoo Club in 1997. To this day, Athonk continues to work across comics, visual art, music, and film, including developing Bad Time Stories into an animated film. Athonk Sapto Raharjo is one of the artists who will take part in Jakarta Biennale 2026: KEBAL.